![]() |
| Sumber foto: Wikipedia |
Punya hobi jalan warisan dari nenek tentu sesuatu yang harus disyukuri, bagaimana tidak, dari banyak tempat yang kita temui tentu banyak hal yang kita dapat, seperti pengalaman, suasana baru, teman baru dan bahkan ide atau inspirasi apapun yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Buat saya, mau travelling tidak harus nunggu kaya atau banyak uang, ini soal keberanian pilihan kita untuk bisa memanfaatkan waktu yang tidak akan pernah diulang mundur untuk menciptakan core bersama keluarga atau sekedar menikmati waktu sejenak untuk rehat dari rutinitas harian.
Berbekal dari pengalaman keluarga yang selalu menciptakan kebersamaan dengan jalan jalan walaupun dengan berbagai keterbatasan, namun kami selalu meluangkan waktu. Tidak perlu ke tempat mewah dan mahal atau pun luar negeri, toh di sekitar kita juga masih banyak yang belum kita explore.
Dan setelah punya anak, saya mengikuti tradisi keluarga, selalu menyempatkan untuk jalan jalan me time bareng keluarga kecil. Puluhan tahun hidup di perantauan, tepatnya di pinggiran Jakarta, banyak tempat yang sudah kami kunjungi, mulai dari kebun binatang, mini zoo di tengah kota hingga tempat bersejarah seperti museum hampir semua pernah kami kunjungi.
Setiap seminggu sekali jika tidak ada halangan, kami tidak pernah absen untuk sekedar mencari suasana baru, entah makan di luar atau menginap di hotel, karena travelling itu menurutku kebutuhan yang penting untuk kesehatan mental, meskipun tidak mengobati 100 persen namun setidaknya otak bisa me refresh sejenak. Menurutku memanjakan diri dengan apa yang membuat kita bahagia itu adalah self reward, bukan pemborosan asalkan sifatnya tidak terlalu memaksakan atau diluar kemampuan isi dompet.
Pernah di satu titik merasa bosan, ketika semua tempat sudah dikunjungi, lalu merasa ingin ke tempat yang dulu selalu di lewat begitu saja tanpa pernah ada pikiran jika suatu saat mengunjunginya lagi. Dulu berpikir ah dekat ini gak kemana mana, tapi sekarang saat sudah merantau ke kota lain dan dunia digital sudah melanda, berseliweran foto dan video tempat yang dulu dianggap biasa saja namun kini jadi tempat yang menarik dan hits di tempat kelahiranku yaitu Bandung. Apalagi itu Jl. Braga, dulu tempat aktivitas bolak balik nganter adik sepupu jadi model cilik buat pentas, padahal dulu juga sudah bawa kamera digital dan handycam buat shoot, tapi dulu tidak ada media platform digital buat penyimpanan seperti sekarang, dulu hanya menyimpan di memory atau USB.
Yes, dulu Asia Afrika tempat aku main, Museum Konferensi Asia Afrika yang ingin sekali saya kunjungi dengan anak saya, mengingat tempat di sekitaran Jl. Asia Afrika banyak tempat bersejarah yang anak saya belum mengetahui seluruhnya.
![]() |
| Sumber foto: travel.kompas.com |
Gedung Sate yang dulunya menjadi tempat kerja kakek saya dan dulu setiap sebulan sekali nganter nenek ambil pensiun pasti masuk ke gedung sate dan masih ingat betul dalamnya itu ya ampun banyak spot-spot foto estetik khas Belanda yang tinggi dan megah (tapi sedikit menyeramkan karena suasana di dalam agak sedikit gelap, kebayang gak kalau malam horornya kaya apa, seiring waktu kini akses ke Gedung Sate sangat sulit jika tidak ada kepentingan, kalau dulu setiap hari minggu seluruh halaman gedung sate, entah dari depan, belakang, samping kanan dan kiri selalu penuh dengan pengunjung yang lari pagi, sekarang mau foto aja harus di luar pagar.
| Hal sederhana namun selalu ada di ingatan dan jadi pelajaran bermakna kalau waktu itu tidak bisa di hitung mundur, jadi sebisa mungkin manfaatkanlah waktu untuk memberi ruang buat kita untuk refresh sejenak dari rutinitas, berkumpul bersama keluarga dengan kegiatan yang menyenangkan dengan travelling ke tempat yang bisa merubah mood menjadi happy. |
Sekarang sudah mager di perantauan, mau berkunjung ke tempat kelahiran pun masih banyak pertimbangan, padahal jarak tempuh tidak memakan banyak waktu seperti menyeberang pulau, tapi rasanya seperti ke kota nun jauh di sana. Tempat yang dulunya tempat bermain kini menjadi seperti tempat asing yang belum pernah dikunjungi.
Apalagi tempat kuliner yang paling saya kangen, seperti rumah makan Abah di Subang, karena saung tempat makannya tepat berada di atas kolam ikan yang besarnya segede-gede bayi, lalu ada ulen bakar yang tersaji di pinggiran kebun teh Lembang, ke Ciwidey, pokoknya masih banyak list tempat wisata dan kuliner yang mau dikunjungi lagi.
Jadwal ke Bandung hanya menjadi wacana dari tahun ke tahun, rencana sudah matang memenuhi isi kepala, giliran sudah ada waktunya ke Bandung hanya di habiskan mager alias malas gerak, hanya menghabiskan waktu buat rebahan dengan menikmati sejuknya suasana dalam rumah tanpa pendingin ruangan dan habis buat menghayal andai di rumah suasananya sejuk gini tanpa AC betapa kondusifnya otak dan bisa pengiritan biaya listrik, hehe. Padahal tidak sesederhana itu ya, semua pasti ada kelebihan dan kekurangan nya.
Ok, itulah cerita saya ketika sekarang setelah di perantauan sangat ingin mengunjungi dan bernostalgia menjelajahi jejak sejarah di ikon kebanggaan Kota Bandung tempat kelahiranku. Dan baru kepikiran sekarang, rasanya keterlaluan banget lahir dan besar di Bandung tapi belum pernah masuk ke Museum Konferensi Asia Afrika, malah cuma lewat-lewat gitu aja, hiks.


Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih sudah mampir ke blog saya, semoga berkesan dan bermanfaat dan jangan lupa boleh tinggalkan jejak dengan memberi komentar, Bye..