![]() |
| Sumber foto: kumparan.com |
Sehat buat saya adalah rezeki besar yang Allah anugerahkan kepada kita sebagai makhluk yang sempurna (sempurna mempunyai akal dan pikiran). Dengan tubuh yang sehat kita bisa beraktivitas tanpa adanya keluhan yang berarti, bisa bekerja untuk keberlangsungan hidup dan menikmati hasil dari kerja itu sendiri merupakan sebuah mata rantai yang harus kita jaga.
Namun kebanyakan dari kita bahkan termasuk saya pribadi yang suka tidak aware dengan kesehatan, bahkan ketika tubuh memberi sinyal pun kita selalu mengabaikannya. Merasa masih usia produktif, merasa kuat, padahal menurut sumber yang pernah saya baca dan saya dengar, investasi kesehatan itu dimulai sejak dini, jangan menunggu ketika sudah terasa atau saat tubuh sudah melemah. Misalnya untuk kesehatan paru-paru sebagai organ vital yang sangat penting untuk keberlangsungan hidup manusia karena berfungsi sebagai pusat pertukaran oksigen dan karbon dioksida, kita harus lebih awere dengan pola hidup kita serta memperhatikan kebersihan lingkungan tempat tinggal kita, terutama kebersihan di dalam rumah.
Bicara tentang investasi kesehatan, mungkin disekitar kita sudah banyak contoh perilaku hidup yang tidak sehat, entah itu dari kebiasaan, pola hidup, rumah yang sanitasinya tidak terjaga itu akan sangat berpengaruh pada kesehatan.
![]() |
| Ventilasi udara yang tepat membantu meningkatkan kualitas udara dalam rumah | Sumber foto: New. yesdok.com |
Padahal rumah merupakan faktor utama buat kesehatan kita, dimana rumah merupakan tempat kita untuk menghabiskan waktu. Rumah bisa memperlihatkan kepribadian dari sang pemiliknya. Jika ingin tahu rumah yang bersih, dilihat dari kamar mandi nya, kalau bersih berarti pemilik rumahnya juga memperhatikan kebersihan yang lainnya juga. Karena kamar mandi merupakan area yang paling susah dibersihkan, butuh tenaga ekstra untuk membersihkannya makanya banyak yang menilai kalau mau tahu sifat asli pemiliknya dalam merawat rumah secara rutin bisa dilihat dari kebersihan kamar mandinya.
Selain sanitasi, masalah ventilasi udara juga tidak kalah penting supaya rumah mendapat sirkulasi udara yang baik dan juga memperhatikan pencahayaan supaya masuk ke dalam rumah untuk menghindari kelembaban dalam ruangan,karena ruang yang lembab akan mengundang bakteri.
Berdasarkan data Riskesdas, ada 12,4% rumah dengan kepadatan hunian rumah kurang lebih 8² per orang (padat). Proporsi lantai dengan tanah sebanyak 6, 9%. Untuk kondisi ruangan dalam tanah, sebagian rumah terpisah dengan ruangan lainnya. Dalam hal kebersihan, ada 2,22% rumah yang ruang tidurnya tidak bersih, 21,5% ruang keluarganya tidak bersih dan 30,3% ruang da punya tidak bersih. Ada 52,1% yang jendela ruang tidurnya yang tidak dibuka tiap hari dan 57,5% yang jendela dapurnya tidak dibuka tiap hari. Ada 57,8% rumah yang ventilasi ruang tidurnya tidak cukup. Ada 30,2% rumah yang pencahayaan ruang tidurnya tidak cukup, 21,5% yang pencahayaan ruang keluarganya tidak cukup dan 31% yang pencahayaan dapurnya tidak cukup (Riskesdas 2013). Data ini merupakan kondisi umum lingkungan rumah di Indonesia.
Lingkungan tidak sehat (kumuh) adalah salah satu reservoir atau tempat baik dalam penularan penyakit menular seperti penyakit TBC. Peranan faktor lingkungan sebagai predisposing artinya berperan dalam menunjang terjadinya penyakit pada manusia, misalnya sebuah keluarga yang berdiam dalam suatu rumah yang berhawa lembab di daerah endemis penyakit TBC. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan percikan dahak dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.
Selain masalah sanitasi dan ventilasi, faktor gaya hidup tidak sehat dilakukan oleh salah satu anggota keluarga, misalnya perokok. Banyak yang tidak menyadari kalau perokok pasif sangat berpeluang besar untuk terkena dampak dari asap rokok tersebut.
Seperti contoh kasus yang terjadi sama adiknya nenek, beliau terkena batuk dengan durasi yang cukup lama, karena batuk tidak kunjung mereda beliau memeriksakan diri ke Rumah Sakit, sangat ingat betul ketika beliau di antar ke Rumah Sakit, badannya masih terlihat sehat seperti mau bepergian biasa. Setibanya di Rumah Sakit, setelah melalui rangkaian pemeriksaan, beliau diharuskan dirawat di Rumah sakit Khusus paru yang ada di daerah Bukit Jarian Bandung.
Entah faktor dari mana, tidak mau sembarangan menuduh tapi keadaan sanitasi dan ventilasi di rumahnya cukup baik, di ruang tidur nya pun ada jendela kaca nako khas zaman dulu yang setiap pagi hari di buka. Tetapi ada anggota keluarga yang merupakan perokok yang mungkin secara tidak sengaja sering terhirup paparan asap rokoknya dan mungkin imun kekebalan tubuhnya kurang, karena kekebalan setiap orang beda.
Rumah Sakit yang begitu mengerikan karena setiap hari, jam, menit, detik ada saja pasien yang meninggal dunia. Horor ketika mendengar cerita para penunggu pasien, paginya masih sempat ngobrol sorenya sudah tidak ada. Sangat mengerikan penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini, makanya harus dijaga pola hidup sehat dan kebersihan lingkungan serta kebiasaan anggota keluarga dengan tidak menjadi perokok aktif apalagi merokok di dalam rumah.
Pengalaman saat menjenguk adiknya nenek (dan saya menyebutnya Nini Ening,nini sebutan nenek dalam bahasa Sunda) di Rumah Sakit Paru Bukit Jarian Bandung pada saat itu sangat memprihatinkan, melihat para pasien yang berjuang melawan penyakit yang menyerang pernapasan tentu ini bukan masalah yang sepele, mereka hidup bergantung pada tabung gas oksigen, ya Allah jadi ingat sama Nini Ening, al fatihah. Berjuang untuk tarikan napas yang begitu tidak tega melihatnya karena sampai tersengal sengal, hiks. Belum lagi mental mereka yang tidak jarang merasa down ketika melihat pasien dengan penyakit yang sama di sebelahnya meninggal dunia, astagfirullah rasanya bercampur aduk tidak karuan.
Cukup lama Nini Ening di rawat di RS Paru Bukit Jarian, badannya terus menyusut karena tidak nafsu makan, setiap hari yang beliau ucapkan selalu ingin minta pulang ke rumahnya. Masih ingat dengan percakapan Nini Ening dengan kakaknya yang seperti ini: Ceu, Ening mau pulang (dengan sesekali melihat ke plafon dan memperlihatkan ekspresi sedih pesimis, lalu kakaknya yang sedang menyisir rambutnya Nini Ening dan mengoleskan body lotion ke tubuh Nini Ening sambil berkata, nanti ya yang sabar tunggu izin dari dokter dulu, lalu Nini Ening menjawab lagi, ah euceu mah suka membesarkan hati aja, saya yang dengar percakapan mereka merasa sedih dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Entah firasat atau apa sampai akhirnya beliau meninggal dunia di Rumah Sakit di saat keluarga besarnya sedang berembuk merencanakan keinginan untuk pulang ke rumahnya. Tetapi takdir berkata lain, beliau pulang ke rumah yang sebenarnya. Allah lebih sayang sama beliau. Hingga detik ini saya masih teringat ketika saya berpapasan di seberang jalan sepulang sekolah melihat beliau mau berangkat ke RS dengan memakai baju rapi banget dengan menenteng tas kulit berdiri di tengah dengan dikawal oleh kakak-kakaknya sambil nunggu angkot (angkutan kota).
Tuberkulosis
![]() |
| Sumber foto: dinkes.slemankab.go.id |
Tuberkulosis yang sering disingkat dengan TB atau TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, dan organ tubuh yang diserang biasanya adalah paru-paru, tulang belakang, kulit, otak, kelenjar getah bening dan jantung.
Bagaimana Penularan TB?
![]() |
| Sumber foto: herminahospitals.com |
Penularan atau infeksi terjadi saat kuman TB yang berada dan bertebaran di udara terhirup oleh orang lain. Saat penderita TB batuk atau bersin tidak menutup mulut, bakteri akan tersebar ke udara dalam bentuk percikan dahak atau droplet. Sekali batuk dapat mengeluarkan 3000 percikan dahak yang mengandung sampai 3500 kuman M Tuberculosis, sedangkan sekali bersin mengandung 4500 - 1 juta kuman M Tuberculosis. Bakteri masuk ke saluran pernapasan menuju paru-paru dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Reaksi daya tahan tubuh akan terjadi 6 - 14 minggu setelah infeksi.
Gejala TB
![]() |
| Sumber foto: puskesmasmanguharjo.madiunkota.go.id |
Gejala utamanya adalah batuk terus menerus (berdahak maupun tidak berdahak). Gejala lainnya adalah demam dan meriang dalam jangka waktu yang panjang sesak nafas dan nyeri dada, berat badan menurun, ketika batuk kadang bercampur darah, nafsu makan menurun dan berkeringat di malam hari meski tanpa melakukan kegiatan.
Pengobatan TB
![]() |
| Sumber foto: facebook PPTI |
Pengobatan berlangsung selama 6 - 8 bulan yang terbagi dalam 2 tahap. Pada tahap awal (intensif), obat diminum setiap hari selama 2 atau 3 bulan. Kemudian pada tahap akhir, Obat diminum 3 kali seminggu selama 4 atau 5 bulan.
Penyakit TB di Indonesia merupakan masalah kesehatan darurat dengan beban kasus tertinggi di dunia setelah India, waw sangat mengerikan ya. Tentu ini perlu dukungan dan kesadaran dari semua pihak, baik itu masyarakatnya maupun pemerintah.
Peran Serta Masyarakat Dalam Upaya Penanggulangan TB
1. Mempromosikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dengan cara menjaga lingkungan sehat dan menjaga etika batuk secara benar
2. Mengupayakan tidak terjadinya stigma dan diskriminasi terhadap kasus TB di masyarakat
3. Membentuk dan mengembangkan warga peduli tuberkulosis
4. Memastikan warga yang terkena TB memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Tanggung Jawab Pemerintah Pusat dan Daerah
1. Bertanggung jawab menyelenggarakan penanggulangan TB melalui upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan.
2. Dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota harus menerapkan unit kerja yang bertanggung jawab sebagai pengelola program penanggulangan TB
3. Bertanggung jawab atas ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan dalam penyelenggaraan penanggulangan TB, yang meliputi obat anti tuberkulosis lini 1 dan lini L2, vaksin untuk kekebalan, obat untuk pencegahan TB, alat kesehatan dan reagensia, Obat Anti Tuberkulosis (OAT) diberikan secara gratis
4. Menjamin ketersediaan sarana dan prasarana laboratorium kesehatan yang terakreditasi
5. Menjamin ketersediaan anggaran penanggulangan TB
6. Menjamin ketersediaan teknologi penanggulangan TB
7. Pembinaan dan pengawasan penanggulangan TB.
Sudah seharusnya kita sebagai masyarakat serta pemerintah bersama-sama untuk mencegah dan melakukan aksi bersama akhiri tuberkulosis, ajakan untuk semua pihak untuk aktif berpartisipasi dalam program penanggulangan TB demi mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.
Semoga tidak banyak lagi kasus seperti Nini Ening yang mungkin pada waktu itu kurang informasi dan pengetahuan tentang penyakit TBC sehingga terlambat untuk ditangani karena tidak segera memeriksakan diri ketika ada yang dirasa tidak wajar.
Dengan penyebarluasan informasi secara tepat dan kampanye kesehatan yang intensif diharapkan angka kematian dan beban penyakit TBC dapat ditekan secara signifikan, sehingga bisa menciptakan masa depan yang lebih sehat bagi seluruh rakyat Indonesia.***
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat
#LombaKesehatanKomdigi2026
#HUTRI81
Sumber referensi:
https://genbest.id
https://www.dinkesprovkepri.org/blog/viewberita/faktor-lingkungan-dan-kaitannya-dengan-tbc
https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/kesehatan-lainnya/tuberkulosis
https://kemkes.go.id/id/indonesias-movement-to-end-tb






pengobatan untuk tbc ini termasuk yang harus benar-benar disiplin ya, mbak karena kalau lupa sehari aja harus ngulang dari awal. Semoga saja ke depannya penyakit tbc ini bisa berkurang dan orang-orang yang merokok itu bisa sadar bahaya dari asap rokok mereka untuk orang-orang yang disayanginya
BalasHapusBetul mba, pengobatannya harus ekstra perhatian 😊
HapusTulisan ini terasa personal banget, Ren. Cerita tentang Nini Ening bukan cuma membuat kita mengenal sosok beliau, tapi juga mengingatkan betapa beratnya perjuangan seseorang ketika berhadapan dengan penyakit pernapasan. Bagian percakapan beliau yang ingin pulang ke rumah itu terasa ngena sekali. Semoga menjadi pengingat buat kita untuk lebih menjaga kesehatan dan lingkungan tempat tinggal, terutama dari asap rokok. Al-Fatihah untuk Nini Ening.
BalasHapusHehe... Iya mba, karena sampai detik ini pun masih selalu ingat sama memori itu. Melalui tulisan ini semoga bisa mengajak masyarakat untuk menerapkan Pola Hidup Sehat (PHBS).
HapusKesehatan adalah rejeki termahal yang Tuhan beri, untuk itu marilah menjaganya dengan sebaik mungkin 😁
BalasHapusSetuju mas Agus, sehat adalah kekayaan yang sesungguhnya. Salam sehat 🙏
HapusHuhu jadi kangen sama beliau, teringat bagaimana baiknya beliau, perjuangan beliau juga luar biasa untuk sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga, al-fatihah untuk almarhumah nini ening. Semoga melalui tulisan ini semakin banyak yang aware terhadap kesehatan dan semakin banyak yang menerapkan pola hidup bersih dan sehat agar semua penyakit terutama yang berasal dari virus seperti TBC ini dapat berkurang.
BalasHapusBetul sel, beliau orang baik makanya Allah lebih sayang ya dan kita yang ditinggalkan diberi hikmah kalau menjaga kesehatan itu sangat penting dan dimulai dari lingkungan rumah faktor utamanya.
HapusAku baru tahu bbrp tajun belakangan ini kalau TB itu bukan hanya TB paru. Kakakku sempet kena TB kelenjar getah bening, tapi ga menular.
BalasHapusDan pengobatannya emang ga boleh lewat sehari pun. Kalau lupa mesti ulang lagi.
Iya aku juga baru tahu setelah nulis tentang TB ini dengan banyak baca dari sumber referensi. Kemudahan mencari informasi di era sekarang sangat mudah sehingga kita harusnya bisa lebih awere sama kesehatan kita.
HapusInnalillahi wainnailaihi roojiun turut berduka buat nini ening. Semoga almarhumah husnul khatimah.
BalasHapusTBC di Indonesia memang masih menjadi horor ya, karena termasuk penyakit mematikan. Saya sempat agak parno ketika ada sodara yang kena TBC, khawatir nular ke anggota keluarganya. Tapi dengan disiplin selain bisa sembuh juga antisipasi agar tidak nular. Sodara akhirnya sembuh juga. Tapi sangat kerepotan.
Semoga kita semua bisa menjaga gaya hidup dan tidak dekat2 dengan asap ya, walaupun susah menghindar ya. Kadang suka kesel kalo ada orang yang tidak peka, kalo datang ke rumah yang ditanya asbak buat tempat rokok. Apa gak bisa nunda merokok dulu nanti si tempat terbuka baru merokok.
Betul kang Dudi, pencegahan ya harus dilakukan bersama sama untuk saling menjaga satu sama lain untuk meminimalisir saling tertular, iya banyak yang gak peka bahkan disekitarnya ada anak anak pun mereka cuek. Di rumah harus dikasih tanda dilarang merokok kang, biar aman.
HapusTurut berduka mba, dan pastinya meninggalkan luka untuk keluarga. Sahabat saya juga pernah terkena TB,alhamdulillah masih bisa dirawat dan menjalani rawat jalan sampai sembuh. ya saya setuju, kalau rumah yang bersih tuh terlihat dari kamar mandi nya, meski gak selalu demikian tapi mostly begitu karena wc tuh area private sih, bukan soal bagus tapi bersihnya. Dan terkait TB, informasi seperti ini memang perlu selalu digaungkan ya mba agar masyarakat lebih aware
BalasHapusMakasih mba ucapan belasungkawanya, ini sudah lama terjadinya puluhan tahun ke belakang, mungkin kalau di zaman sekarang sudah banyak informasi terkait penyakit TB mulai dari cara penanganan dan pengobatannya, seperti hal nya sahabat mba yang sembuh dari TB karena tidak terlambat penanganan dan pengobatannya ya.
HapusTBC sering dianggap sepele sama sebagian orang, karena dianggap hanya sakit batuk biasa. Memang harus terus dilakukan edukasi masif sih untuk kasus TB ini agar masyarakat lebih paham dan mengurangi angka kasusnya.
BalasHapusSetuju mba dan harus dilakukan bersama sama, juga mengedukasi etika batuk yang masih banyak belum paham.
HapusPenanganan TBC di masyarakat memang masih menjadi PR untuk pemerintah. Terima kasih edukasinya mbak sangat bermanfaat buat kita lebih aware tentang tbc. Turut berduka cita mbak..🙏
BalasHapusSetuju mba, dan ini PR kita bersama juga ya untuk menekan tingginya angka kasus TB di Indonesia untuk Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat.
HapusDulu salah satu keluarga kena TB, pengobatannya panjang banget. Dia paham banget TB ini menular, tapi masih saja ada yang anggap sepele ya. padahal kasusnya tinggi banget.
BalasHapusIya pengobatan yang panjang dan perjuangan untuk sembuh, di era sekarang tidak sulit untuk mencari informasi cara penanganan dan pengobatannya diharapkan masyarakat bisa saling mengedukasi dilingkungan sekitarnya untuk mencegah penyebaran TB, setidaknya bisa menekan tingginya angka TB di Indonesia. Salam sehat.
HapusSaya yang bekerja sehari-hari di RS, melihat kasus TB ini jg merasa sedih, yang TBRO mulai merangkak naik...
BalasHapusWaduh... Ngeri ya mana Penularannya sangat gampang ya, hiks. Penting juga nih edukasi secara masif tentang pengobatan TB supaya disiplin minum obat sampai tuntas.
Hapus