![]() |
| Museum Perumusan Naskah Proklamasi |
17 Agustus, moment yang ingin selalu ada buat aku, terlebih ketika sudah memiliki anak pokoknya harus ada memory mumperingati hari kemerdekaan RI. Karena dari kecil sudah terbiasa mengisi kemerdekaan di lingkungan rumah, memory dalam ingatanku tidak pernah terlupakan, kumpul bersama, bermain bersama, ceria dan dapat hadiah suatu pengalaman yang hingga sampai saat ini menjadi cerita.
Makanya aku ingin anakku juga demikian, punya cerita tentang hati kemerdekaan buat anak cucunya kelak. Ada yang berbeda dengan cerita kemerdekaan hari ini, dimana anakku tidak mood ikut perlombaan, tapi dia sangat antusias ketika ada acara Pawai Tapak Tilas di Museum Naskah dan Perumusan Proklamasi (Munasprok) di Menteng Jakarta Pusat.
Akupun sangat antusias mau ikut pawai, karena zaman waktu kecil juga suka ikut pawai dengan kostum baju tradisional. Seru bisa keliling jalan beriringan ramai-ramai sambil menyanyikan lagu nasional, dan sekarang saya ingin anakku juga ikut merasakan serunya pawai.
Berangkat dari rumah dengan semangat 45 mau ikut berpartisipasi ikut merayakan hari kemerdekaan. Tiba di Munasprok pukul 11.30 WIB, kami melakukan registrasi terlebih dahulu mengingat undangan terbatas. Setelah registrasi, akupun tidak melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke dalam museumnya, ketika sampai di ruangan ketika tiga tokoh (Soekarno, Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo) ) yang sedang merumuskan naskah proklamasi, seketika imajinasi ku melayang pada zaman itu, ketika mereka sedang terburu-buru karena naskah proklamasi yang mau dibacakan saat hari kemerdekaan dengan waktu yang singkat pada tanggal 17 Agustus 1945 dini hari.
![]() |
| Berada diantara dua tokoh bersejarah |
Ngebayangin bagaimana chaosnya saat itu ketika Warga Negara Indonesia mendesak Soekarno untuk segera membacakan Proklamasi yang menyatakan kemenangan untuk Indonesia, dalam waktu bersamaan ada beberapa kejadian yang berkaitan dengan Proklamasi. Tapi tiga tokoh ini berhasil merumuskan naskah teks Proklamasi dengan sesuai deadline. Dan semua itu tidak lepas dari bantuan dari Laksamana Muda, Tadashi Maeda yang telah meminjamkan rumah dinas nya dengan menjamin keselamatan dan keamanan ke tiga tokoh ini dari kemungkinan berbagai serangan.
Lewat museum kita bisa menggambarkan kejadian tempo dulu, itulah manfaat dari museum untuk kita, bisa mengingat atau mengenang kembali sejarah yang tidak boleh dilupakan sampai kapanpun. Tanpa sejarah kita tidak bisa mengenal identitas kita, untuk itu jaga dan lestarikan sejarah dan adat budaya bangsa kita. Cuaca mulai terik dan jam makan siangpun tiba, kami para peserta tidak melewatkan makan siang karena acara cukup padat dan butuh energi untuk beberapa jam ke depan.
Selesai jam makan siang, acara dimulai dan kamipun disuguhi oleh tarian dari adik-adik pelajar SLTP dan yang saya buat haru dan bangga ketika penampilan Angklung Lansia yang benar-benar bikin penonton ikut berdecak kagum, suara angklung yang terdengar kompak dengan alunan irama dengan suara yang indah dari gerakan tangan-tangan oma yang bikin "merinding" karena begitu luar biasa, meskipun sudah tidak muda lagi tapi tetap produktif dan mau belajar, tentu ini jadi inspirasi buat saya.
![]() |
| Tarian Tradisional |
Tujuan aku membawa gen alpha datang ke acara Tapak Tilas ini, ingin sekali memberi gambaran kalau perjuangan pejuang dan orang-orang di zaman penjajahan itu seperti apa, karena kalau saya aku suka diceritain sama nenek tentang zaman penjajahan dulu. Saya juga suka cerita si tapi rasanya kurang kalau tidak ada reka ulang atau gambaran melalui kisah yang ditampilkan melalui adegan seperti kisah nyatanya. Benar saja, ketika pementasan drama zaman penjajahan, anak saya cukup menikmati, fokus dan tidak lupa mengabadikan lewat video dan foto sambil berpesan "kalau sudah sampai rumah pindahin videonya ke device rendy" jangan maen hapus aja. Ya karena aku suka menghapus video dan fota yang sudah tidak ada kepentingannya, hehe.
Sekitar pukul 14.30 Menteri Kebudayaan Fadli Zon tiba disambut dengan sejumlah awak media dan komunitas sepeda ontel, meriah dan memang ini acara lumayan cukup besar karena melibatkan perwakilan dari tokoh pejuang seperti cucu dari Mohammad Hatta, tokoh kebudayaan dan komunitas pecinta sejarah seperti komuntias Historia dan lain-lain.
![]() |
| Menteri Kebudayaan | Fadli Zon |
Acara semakin meriah dan benar-benar membuat kami para undangan untuk flashback ke masa zaman dulu, saya pribadi cukup kagum sih ternyata masih banyak yang antusias untuk merayakan hari kemerdekaan, yang artinya mereka tidak melupakan sejarah zaman pejuang yang dengan rela mempertaruhkan nyawa demi Indonesia.
Semakin menjelang sore, saat tibanya waktu untuk pawai tiba, pawai yang dimulai dari munasprok menuju tugu proklamasi yang sangat dinanti oleh para peserta terdaftar dan peserta yang dengan sukarela meluangkan waktunya untuk mengikuti pawai bapak tilas Proklamasi yang sudah menjadi agenda tahunan.
Harapan saya, semoga kita bisa mengenang sejarah tidak hanya pas hari kemerdekaan saja, tapi setiap hari sejarah harus kita jaga dan kita rawat.
Terimakasih @munasprok yang sudah memberi kesempatan buat saya, hingga saya bisa mengajak anak saya untuk bisa mengenal sejarah lebih dalam. Saya sangat terkesan bisa hadir dan berbaur dengan peserta lain yang kami tidak mengenal satu sama lain, tetapi kita bisa merayakan dalam kebersamaan.
Dirgahayu RI ke 81 🇲🇨
*Foto doc pribadi









Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih sudah mampir ke blog saya, semoga berkesan dan bermanfaat dan jangan lupa boleh tinggalkan jejak dengan memberi komentar, Bye..